Jakarta - Terinspirasi dari musik pop, folk, rock, dan lagu
anak-anak Indonesia tahun '70-an dan '80-an yang ia dengar lewat medium
kaset serta piringan hitam pada periode 2004 hingga 2008, seorang
musisi, komposer, produser, serta pengarsip seni audio dan visual kelas
internasional, Mark Gergis, yang juga merupakan pemilik label rekaman independen Sham Palace memutuskan untuk merilis sebuah album kompilasi dengan tajuk Indonesia Pop Nostalgia: Pan – Indonesian Pop, Folk, Instrumentals & Children’s Songs 1970s – 1980s.Album
yang dirilis dalam format piringan hitam terbatas sebanyak seribu
keping ini berdurasi 43 menit dan diisi dua belas lagu yang antara lain
menampilkan vokal Ira Maya Sopha dan Dina Mariana saat masih berstatus
sebagai penyanyi cilik. Instrumentalia dari Orkes Melayu Bulan Purnama
serta dua lagu instrumental asal Minang gubahan Kamar Ruddin Z juga
turut serta meramaikan album ini.
Ada pula “Dikijoknyo”, sebuah reinterpretasi lagu Bollywood klasik, “Man Dole Mere Tan Dole”, dalam gaya pop Minang oleh penyanyi Sumatera dari dekade '80-an bernama KIM. Nama legendaris seperti Bimbo dan Aria Junior pun tercatat sebagai eksponen Indonesia Pop Nostalgia.
Kompilasi ini memang mengedepankan musik-musik dari Pulau Jawa dan Sumatera, namun Gergis tidak menampik adanya pengaruh kuat dari musik populer dan tradisional bernafas Islami, Arab dan juga Asia Selatan, di samping tentu saja ragam warna kebarat-baratan. Menurut Gergis, perpaduan tersebut
Ada pula “Dikijoknyo”, sebuah reinterpretasi lagu Bollywood klasik, “Man Dole Mere Tan Dole”, dalam gaya pop Minang oleh penyanyi Sumatera dari dekade '80-an bernama KIM. Nama legendaris seperti Bimbo dan Aria Junior pun tercatat sebagai eksponen Indonesia Pop Nostalgia.
Kompilasi ini memang mengedepankan musik-musik dari Pulau Jawa dan Sumatera, namun Gergis tidak menampik adanya pengaruh kuat dari musik populer dan tradisional bernafas Islami, Arab dan juga Asia Selatan, di samping tentu saja ragam warna kebarat-baratan. Menurut Gergis, perpaduan tersebut




